Showing posts with label Unconditional Love. Show all posts
Showing posts with label Unconditional Love. Show all posts

October 13, 2017

The Phoenix Love...

Rich in colors, Warm energy, Wide spectrum of frequency, Splendid vibes...

Nothing can stop the wings of freedom take her to the infinity and beyond... Towards the indifinite source of light...  Where her existence can help making this life so worth living...

Even in the darkest shadow of night, when the moonlight barely touch the earth...  The sparks of her light, will lit the candle in each heart that is touched by her Infinite Love...

#FertileSolitude #RainbowPheonix

August 10, 2017

Potensi Diri dan Kesejatian Peran di Semesta...

Ada miliaran penduduk bumi, namun Sang Pemilik Kehidupan senantiasa menciptakan satu potensi kepribadian baru untuk setiap bayi yang lahir, dengan amat spesifik dan unik. Setiap bayi ini sejatinya akan tumbuh menjadi insan yang memiliki amanat untuk melaksanakan sebuah tugas yang tak kalah spesifik dan unik, ditetapkan hanya untuk peran masing-masing bakal individu tersebut, tidak ada satu peran pun yang sama. Setiap individu juga sudah dilengkapi dengan default factory setting yang kompatibel dengan apapun tugas yang akan diembannya.

Meskipun berbeda spesifikasi, namun frekuensi dan panjang gelombang yang sama akan membuat sekelompok pemeran saling berdekatan dan berkumpul untuk menyatukan sumber daya demi terlaksananya peran masing-masing dengan lebih total dan optimal.

Rahasia terlaksananya peran spesifik ini ada pada menemukan surat perintah penugasan diri yang telah tertulis dalam blue print skenario hidup kita, sejak ruh ditiupkan ke dalam kandungan ibu. Setelah blue print kita kenali maka tugas berikutnya  adalah mengaktivasi default factory setting yang kita miliki, lewat membaca semesta dan menguasai life skill yang kita perlukan. Sambil menyalakan radar hati demi mendeteksi panggilan tugas untuk peran yang paling dakat dan harus kita laksanakan segera. Peran ini akan tumbuh seiring dengan berkembangnya potensi diri yang berhasil menemukan kesejatiannya.

Maka benarlah jika dikatakan.. "Barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.." Ketika seorang manusia mengenal dirinya dengan sangat baik, maka sesuai fitrah dia akan bergerak menemukan peran dan memahami tugas sejatinya di muka bumi.

Sayangnya kita sering lalai mengenali kesempurnaan Penciptaan yang bersemayam di dalam diri, untuk melakukan internalisasi skill dan knowledge demi mengaktivasi potensi diri dengan optimal. Kadang kita terlalu sibuk mengagumi kesempurnaan insan lain di luar diri dan melakukan studi banding demi mencari cara mengejar ketinggalan. Sehingga kita urung bertemu dengan peran dan existence track sejati.

Padahal kita dan manusia lain tidak akan pernah mengorbit di existence track yang sama, karena sesungguhnya manusia tidak ada yang kongruen satu sama lain. Kita boleh belajar dari pengalaman orang lain atau terus saling mengingatkan. Namun tetap memberi ruang pada diri sendiri untuk terus berkembang menjadikan pribadi sejati kita tumbuh semakin  baik.

Kita pun tidak perlu merasa ragu dengan kebenaran yang kita yakini. Ketika kebenaran itu merupakan hasil kesimpulan sadar dari kumpulan pengalaman spesifik dan unik yang berhasil dipahami pikiran, dicerna hati dan diterima jiwa seumur hidup kita. Karena kebenaran mutlak hanya milik Sang Pencipta, sedangkan kebenaran manusia sangatlah relatif. Sehingga perlu kiranya kita memberikan ruang gerak bagi siapapun yang hidup di dekat kita untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus mengganggu kesejatian diri kita.

Biarkan frekuensi dan panjang gelombang yang kita miliki beresonansi dengan milik manusia lain di semesta kita untuk saling menguatkan tanpa harus ada keinginan untuk saling meniadakan. Kejujuran pada diri dan semesta adalah kunci yang akan membawa kita pada keyakinan akan kesejatian diri.

Ada kekuatan besar di dalamnya, saat kita berhasil menyelami potensi diri. Lewat mengaktivasi setiap sumber daya yang terinstal pada kesatuan fisik, pikiran, hati dan jiwa untuk kemudian mengkoneksikannya dengan semesta dan Penciptanya sehingga kita berhasil mengetahui, mengerti, menerima dan melaksanakan peran sejati yang kan senantiasa tumbuh di dalam kehidupan kita.

Sesungguhnya tidak ada wadah yang cukup besar atau paling benar untuk memuat keberadaan diri setiap insan di muka bumi. Apalagi materi yang cukup tepat untuk mendeskripsikan kreativitas Sang Pemilik Jagat Raya yang mengejawantah secara spesifik di semesta setiap manusia kreasiNya, karena begitu luas TahtaNya di Langit dan Bumi.

Sedangkan  langit secara konstan berubah dan terus mengembang pada garis edarnya. Jauh lebih cepat dari kemampuan potensi setiap manusia memahami segala bentuk kebenaran yang tersebar di jagat raya. Adakah celah bagi kita untuk layak merasa kecil atau justru merasa layak mengecilkan peran insan lain..? Bukankah satu-satunya celah yang boleh kita punya adalah keinginan dan kebutuhan untuk terus tumbuh, yang melahirkan keyakinan akan hadirnya hari esok yang semakin baik, untuk kehidupan di dalam diri dalam interaksinya dengan kehidupan lain di semesta..?

Sedangkan sebaik-baik manusia adalah yang besar manfaatnya bagi sesama. Artinya menyadari kesejatian peran pada gilirannya akan membawa kita kepada cara untuk menjadikan hidup ini penuh manfaat. Luasnya semesta yang akan mengambil kebaikan dari kehidupan kita sangatlah tergantung dari keinginan kita untuk direpoti dan  tersedia baginya tanpa syarat. Jangkauan ruang gerak kita akan tergantung pada berkembangnya keterampilan, pengetahuan dan keyakinan yang harus kita bagi, demi melebarkan sayap-sayap kecil yang kita punya, untuk bersiap mengepak ke segala penjuru bumi yang membutuhkan sentuhan pikiran, hati dan jiwa manusia kita.

Semoga kita termasuk dalam golongan manusia yang selalu mau membaca tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta dalam kehidupan kita dan memikirkannya. Sehingga apapun peran yang kita pilih untuk dilaksanakan di semesta ini akan kita kerjakan dengan penuh komitmen dan kesadaran demi membangun kehidupan yang baik dan membawa kebaikan.

Semoga sebagai ayah dan ibu, suami dan isteri, pekerja dan pengusaha, politikus dan pemimpin umat, guru dan cendekiawan, dan masih banyak lagi peran di semesta, kita akan tetap menyadari bahwa kita adalah penduduk semesta dalam berbagai warnanya. Hingga jagat cilik yang kita miliki dalam diri dan keluarga kecil yang kita bangun dapat berkontribusi aktif sebagai bagian dari jagat raya. Dengan mengingat ada hak semesta atas setiap sumber daya dan potensi yang dititipkan Sang Pencipta dalam diri dan keluarga kita, semoga kehidupan kita akan terpelihara dalam kesejatian peran.

Semoga selain sebagai ibu dan isteri, diri ini mampu senantiasa jujur berbagi rasa dan pikiran lewat tulisan, membedah kesadaran dan pemikiran dalam komunitas happy mom dan smart parenting with love, juga berperan aktif menebar cinta dan harmoni di semesta baik on line maupun off line. Demi bumi yang lebih baik dan kehidupan anak negeri yang semakin sehat dan bahagia.

So Help Me God...

"If you wanna make the world a better place

take a look at yourself and make that change..."

~MJ - Man in The Mirror

#TowardsTheInfinitynBeyond
#VelocitynAcceleration
#GetaLIFEBeALIVE

December 11, 2016

Love, Happiness, and Growth Spot...

Tentang Cinta, Bahagia dan Titik Tumbuh

Beberapa kali aku terlibat debat serius dengan para motivator dan pendidik yang meyakini bahwa untuk melejitkan potensi kita harus selalu fokus pada kelebihan. Termasuk di dalamnya menggunakan berbagai perangkat untuk mereformat mindset demi melestarikan sugesti positif pada diri.

Makanya akhir2 ini mereka yang bakulan NLP, segala rupa hypno dan mind mastery laris manis. Aslinya karena makin banyak orang jenuh dengan rutinitas hidupnya yang monoton dan membosankan, akibatnya lejitan potensi untuk menghasilkan masterpiece sulit mendapatkan energi. Hingga solusi instanpun jadi buruan.

Sementara buat emak kayak aku yang punya banyak waktu berproses untuk menemukan celah2 yang terabaikan dan terlewati di dalam diri, solusi instan ternyata ga berhasil menambah produktivitas apalagi untuk menghasilkan masterpiece. Seringnya hanya ngaruh sebentar, habis itu ngelowor dan nglokro lagi. Sementara roda kehidupan terus berputar tanpa bisa diperlambat.

Dalam perjalananku berproses, kutemukan sesungguhnya produktivitas itu kuncinya cuma keyakinan diri dan semangat yang membara. Sedang buat aku untuk membangun keyakinan diri dan semangat bahan baku terbaiknya adalah  bahagia. Sementara  rahasia bahagiaku adalah tercukupinya bahan bakar cinta.

Ketika semua itu terjawab maka akupun menyadari, perlunya berupaya untuk sadar pada apa yang kurang. Tanpa bermaksud mengajak untuk kufur terhadap nikmat, izinkan aku membuka sebuah paradigma yang belum lumrah, bahwa sejatinya fokus pada kekurangan juga penting.

Syaratnya adalah niat kita benar2 untuk melakukan balancing, updating dan tuning up demi melakukan proses upgrading terhadap kualitas diri. Sebelum semua proses upgrading dimulai, pastikan untuk terlebih dulu menghilangkan sekecil  apapun celah buat mengasihani diri sendiri, lewat menjalani serangkaian proses healing...

Koq jadi panjang yaa...

Namanya juga solusi dengan orientasi proses tumbuh kembang diri, mana ada yang instan. Hidupku yang sudah jelang 40 ini baru mulai diupgrade sekitar 5 tahun lalu. Sementara proses restorasi dan rekonstruksi baru mulai 3 tahun lalu. Kalo dihitung yaa baru menemukan titik balik di 1/8 usia. Itu juga sudah lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kesimpulanku sementara ini, kalau mau produktif kita harus hidup bahagia. Cukup menghibur ketika aku sadar bahwa manusia yang bahagia itu bukan mereka yang sama sekali ga punya kekurangan. Kan ga ada satupun manusia yang diciptakan sempurna.

Sungguh sebuah titik terang ketika aku mulai menyaksikan ternyata manusia bakal mulai merasa bahagia kalo dia tau persis di mana letak ketidak bahagiaannya dan mulai bergerak dari situ untuk melakukan transformasi.

Lebih keren lagi adalah kenyataan, ketika seorang emak menemukan titik tumbuhnya, maka semua jiwa yang hidup disekelilingnya, dan menikmati pertumbuhannya akan ikut ketularan tumbuh.

Ternyata kemampuan untuk terus tumbuh adalah sumber kebahagiaan yang menghasilkan cinta tanpa syarat untuk diri, hingga lahirlah kemampuan untuk mencintai kehidupan dengan seluruh kapasitas diri. Sedang CINTA adalah energi tak berbatas yang mampu menyeimbangkan roda kehidupan agar berputar di dalam harmoni.

Selamat menemukan titik tumbuh, hingga berkembang kemampuan untuk terlahir kembali...

Happy Re-Born...

#ThePowerofHappyMom
#PickVelocityandAccelerate
#TowardsTheInfinitynBeyond

November 26, 2012

Jatuh Cinta Lagi, Pada Sejatinya Cinta...

“Kita ga pernah tau KAPAN, DI MANA dan BAGAIMANA kita bisa 'JATUH CINTA'.. Tetapi hanya kita yang dapat menentukan apakah CINTA itu kan jadi ANUGERAH atau MUSIBAH dengan segala potensi kekuatannya. Setiap saat kita BUTUH CINTA dan PERLU untuk selalu MENGHIDUPKAN CINTA..”

Status yang menghadirkan tulisan ini.

JATUH CINTA LAGI, sepertinya Too Good to Be True. Tiga kata ini bahkan sepertinya tabu untuk diucapkan sebagai keinginan untuk orang-orang seumurku, terlebih bagi yang hidupnya sudah memiliki setting rapi bersama keluarga dan lingkungannya, lengkap dengan segala kungkungan nilai yang dipelihara di dalamnya.

Tapi tidak dapat dipungkiri, kabarnya menjelang dekade keempat menghuni kehidupan ini, manusia umumnya mengalami Puber kedua. Saat itu dia akan merasa gelisah dan seperti butuh untuk jatuh cinta lagi. Apakah ini kemudian jadi pembenaran untuk 'Jatuh Cinta' lagi dengan obyek yang baru..?? Ataukah itu tanda waktunya telah tiba untuk berkenalan dengan 'Cinta Sejati' yang kan membawa kita pada 'Sejatinya Cinta'. Sesuatu yang jika kita miliki akan menjadi anugerah yang terindah dalam hidup ini...


Dulu waktu masa remaja kita mengalami proses jatuh cinta, di masa puber yang indah disebut cinta monyet itu. Sebetulnya keindahan itu bukan tentang dia yang kita cintai, lebih tentang indahnya perasaan kita sebagai remaja yang berani menyatakan ‘I’m in Love’ . Keindahan dalam masa puber itu adalah keindahan menemukan diri sebagai pribadi yang tumbuh dewasa dan mampu mencinta .


Sayangnya ketika kita yang mantan remaja tumbuh, dan masuk masa puber kedua koq kembali mengalami masa bentuk gejolak pubertas yang sama dengan di puber pertama. Jatuh cinta lagi ke obyek yang lain. Sehingga banyak orang yang terjerembab jatuh ke dalam kubangan cinta, hanya karena dorongan ketertarikan fisik pada objek lain yang harusnya sudah selesai pada masa puber pertama. Hal yang berpotensi menghadirkan musibah.


Gejolak puber kedua idealnya mampu menjadikan kita pribadi yang semakin dewasa dan semakin mampu mencintai. Karena saat itu waktunya kita berkenalan dengan Cinta Sejati, modal awal untuk menemukan wujud Sejatinya Cinta demi kebahagiaan yang hakiki.


Definisi Cinta Sejati dan Sejatinya Cinta mungkin tidak sama antara satu benak dengan benak yang lain. Karena Cinta adalah rasa yang begitu indah namun memiliki definisi yang amat beragam. Tetapi bagi diri ini, kunci untuk mampu menemukan Cinta Sejati dan bergerak mewujudkan Sejatinya Cinta yang mampu menghadirkan kebahagiaan hakiki dimulai dari mengenali cinta pada sejatinya diri kita. Learning to Love Our Selves is The Greatest Love of All..


“Aku menemukan cinta yang mengizinkanku mencintai sejatinya diri demi kemampuan untuk mencintai kehidupan dan memuliakannya karena dari sana kan kutemukan bahagia. Ketika diri mampu ikut menghadirkan bahagia bagi sesama..” .


Ketika kita belajar mencintai sejatinya diri. Maka saat itu kita kan mengerti, begitu besar kebutuhan diri kita untuk merasakan dan membalas CINTA Sang Pencipta. Hingga berusahalah kita untuk selalu dekat, dan gelisah ketika jauh dariNya. Membawa kita untuk mengenali di mana letak kekuatan kita dan apa peran kita dalam memenuhi panggilan semesta. CINTA ini jelas mampu menghasilkan bahagia yang hakiki. Karena hanya CINTA PadaNya yang mengejawantah, dapat beresonansi di Jiwa, hati dan pikiran sehingga timbul daya yang memiliki energi dahsyat untuk berbuat dan menghasilkan karya.


Ketika kita berusaha mewujudkan CINTA ini lewat meladeni semesta, maka mereka yang dihadirkanNya di hadapan kita adalah kehidupan yang perlu kita sentuh dengan CINTA. Sentuhan CINTA yang membangun dan memberdayakan. Cinta sejati mampu membuat kita mencintai kehidupan dan memuliakannya, saat itulah kita akan menemukan bahagia yang sesungguhnya, dengan menghadirkan bahagia bagi sesama. Sesuai dengan pesan semesta, alasan utama mengapa kita diciptakan.


Kabarnya Life Begins at Forty.. Aku berharap saat itu kita sudah memiliki CINTA SEJATI. Saat di mana kita sudah mengerti tentang makna Sejatinya Cinta, yang menghubungkan hidup kita dengan Sang Pencipta dan Kehidupan Semesta. Semoga di dekade keempat. Puber kedua kita membawa pada penemuan cinta yang baru...

Diriku sungguh ingin menemukan cinta yang mampu membuatku selalu merasa hidup dan berbahagia. Untuk itu kupikir, kita harus Jatuh Cinta Lagi. Kali ini harusnya pada Kehidupan demi mencari cara membuatnya Worth Living. Dan hidup ini benar-benar akan Begins at Forty...

Yuk kita Jatuh Cinta demi memperbaiki kualitas hidup kita dengan cara menebarkan sebanyak mungkin Cinta pada Kehidupan yang mampu menghadirkan cahaya ke setiap sudut gelap hati sesama yang membutuhkannya. Karena begitulah cara kita untuk merasakan dan membalas CintaNya, yang akan mengejawantah lewat tiap usaha melayani sesama dengan penuh cinta yang membangun dan memberdayakan. Sehingga di saat yang sama kita pun memperoleh kekuatan Cinta, dari manfaat menebarkan Cinta yang membangun kehidupan. Semoga kita mampu menemukan, menyimpan, menumbuhkan dan melestarikan CINTA SEJATI itu...

#TentangCINTAyangSATU



Bunch of Love,

Arifah H.




Wings of The Pheonix

The stars knew how long I've been wandering to find the heart that beats in tandem with mine.. The sun noticed how far I'd like to t...