November 26, 2012

Jatuh Cinta Lagi, Pada Sejatinya Cinta...

“Kita ga pernah tau KAPAN, DI MANA dan BAGAIMANA kita bisa 'JATUH CINTA'.. Tetapi hanya kita yang dapat menentukan apakah CINTA itu kan jadi ANUGERAH atau MUSIBAH dengan segala potensi kekuatannya. Setiap saat kita BUTUH CINTA dan PERLU untuk selalu MENGHIDUPKAN CINTA..”

Status yang menghadirkan tulisan ini.

JATUH CINTA LAGI, sepertinya Too Good to Be True. Tiga kata ini bahkan sepertinya tabu untuk diucapkan sebagai keinginan untuk orang-orang seumurku, terlebih bagi yang hidupnya sudah memiliki setting rapi bersama keluarga dan lingkungannya, lengkap dengan segala kungkungan nilai yang dipelihara di dalamnya.

Tapi tidak dapat dipungkiri, kabarnya menjelang dekade keempat menghuni kehidupan ini, manusia umumnya mengalami Puber kedua. Saat itu dia akan merasa gelisah dan seperti butuh untuk jatuh cinta lagi. Apakah ini kemudian jadi pembenaran untuk 'Jatuh Cinta' lagi dengan obyek yang baru..?? Ataukah itu tanda waktunya telah tiba untuk berkenalan dengan 'Cinta Sejati' yang kan membawa kita pada 'Sejatinya Cinta'. Sesuatu yang jika kita miliki akan menjadi anugerah yang terindah dalam hidup ini...


Dulu waktu masa remaja kita mengalami proses jatuh cinta, di masa puber yang indah disebut cinta monyet itu. Sebetulnya keindahan itu bukan tentang dia yang kita cintai, lebih tentang indahnya perasaan kita sebagai remaja yang berani menyatakan ‘I’m in Love’ . Keindahan dalam masa puber itu adalah keindahan menemukan diri sebagai pribadi yang tumbuh dewasa dan mampu mencinta .


Sayangnya ketika kita yang mantan remaja tumbuh, dan masuk masa puber kedua koq kembali mengalami masa bentuk gejolak pubertas yang sama dengan di puber pertama. Jatuh cinta lagi ke obyek yang lain. Sehingga banyak orang yang terjerembab jatuh ke dalam kubangan cinta, hanya karena dorongan ketertarikan fisik pada objek lain yang harusnya sudah selesai pada masa puber pertama. Hal yang berpotensi menghadirkan musibah.


Gejolak puber kedua idealnya mampu menjadikan kita pribadi yang semakin dewasa dan semakin mampu mencintai. Karena saat itu waktunya kita berkenalan dengan Cinta Sejati, modal awal untuk menemukan wujud Sejatinya Cinta demi kebahagiaan yang hakiki.


Definisi Cinta Sejati dan Sejatinya Cinta mungkin tidak sama antara satu benak dengan benak yang lain. Karena Cinta adalah rasa yang begitu indah namun memiliki definisi yang amat beragam. Tetapi bagi diri ini, kunci untuk mampu menemukan Cinta Sejati dan bergerak mewujudkan Sejatinya Cinta yang mampu menghadirkan kebahagiaan hakiki dimulai dari mengenali cinta pada sejatinya diri kita. Learning to Love Our Selves is The Greatest Love of All..


“Aku menemukan cinta yang mengizinkanku mencintai sejatinya diri demi kemampuan untuk mencintai kehidupan dan memuliakannya karena dari sana kan kutemukan bahagia. Ketika diri mampu ikut menghadirkan bahagia bagi sesama..” .


Ketika kita belajar mencintai sejatinya diri. Maka saat itu kita kan mengerti, begitu besar kebutuhan diri kita untuk merasakan dan membalas CINTA Sang Pencipta. Hingga berusahalah kita untuk selalu dekat, dan gelisah ketika jauh dariNya. Membawa kita untuk mengenali di mana letak kekuatan kita dan apa peran kita dalam memenuhi panggilan semesta. CINTA ini jelas mampu menghasilkan bahagia yang hakiki. Karena hanya CINTA PadaNya yang mengejawantah, dapat beresonansi di Jiwa, hati dan pikiran sehingga timbul daya yang memiliki energi dahsyat untuk berbuat dan menghasilkan karya.


Ketika kita berusaha mewujudkan CINTA ini lewat meladeni semesta, maka mereka yang dihadirkanNya di hadapan kita adalah kehidupan yang perlu kita sentuh dengan CINTA. Sentuhan CINTA yang membangun dan memberdayakan. Cinta sejati mampu membuat kita mencintai kehidupan dan memuliakannya, saat itulah kita akan menemukan bahagia yang sesungguhnya, dengan menghadirkan bahagia bagi sesama. Sesuai dengan pesan semesta, alasan utama mengapa kita diciptakan.


Kabarnya Life Begins at Forty.. Aku berharap saat itu kita sudah memiliki CINTA SEJATI. Saat di mana kita sudah mengerti tentang makna Sejatinya Cinta, yang menghubungkan hidup kita dengan Sang Pencipta dan Kehidupan Semesta. Semoga di dekade keempat. Puber kedua kita membawa pada penemuan cinta yang baru...

Diriku sungguh ingin menemukan cinta yang mampu membuatku selalu merasa hidup dan berbahagia. Untuk itu kupikir, kita harus Jatuh Cinta Lagi. Kali ini harusnya pada Kehidupan demi mencari cara membuatnya Worth Living. Dan hidup ini benar-benar akan Begins at Forty...

Yuk kita Jatuh Cinta demi memperbaiki kualitas hidup kita dengan cara menebarkan sebanyak mungkin Cinta pada Kehidupan yang mampu menghadirkan cahaya ke setiap sudut gelap hati sesama yang membutuhkannya. Karena begitulah cara kita untuk merasakan dan membalas CintaNya, yang akan mengejawantah lewat tiap usaha melayani sesama dengan penuh cinta yang membangun dan memberdayakan. Sehingga di saat yang sama kita pun memperoleh kekuatan Cinta, dari manfaat menebarkan Cinta yang membangun kehidupan. Semoga kita mampu menemukan, menyimpan, menumbuhkan dan melestarikan CINTA SEJATI itu...

#TentangCINTAyangSATU



Bunch of Love,

Arifah H.




November 14, 2012

The Power of Happy Mom

Hidup itu sebuah perjuangan, bukan pengorbanan. Karena Perjuangan akan melahirkan Pejuang, sedang Pengorbanan akan melahirkan Korban...

Koq saya sangat yakin yaa Allah pasti mau semua Ibu berjuang memperbaiki kondisinya biar bahagia... Saya membayangkan bahkan Allah mungkin ikut menitikkan air mata manakala seorang Ibu yang diciptakanNya begitu sempurna, hingga diletakkanNya lah surga dibawah kakinya, kehilangan HAK untuk bahagia dan merasa pantas menjadikan dirinya korban...

Hati saya begitu perih ketika membaca betapa kisah hidup seorang Ibu di negeri ini begitu penuh berisi serangkaian kewajiban tanpa imbangan Hak yang pantas dari sekitarnya. Semua dilakoni seorang Ibu demi menggapai surga Allah. Tetapi mengapa hari-harinya masih juga terasa sepi, sunyi dan perih...

Sedang tugas Ibu memastikan sebuah generasi dididik dengan baik, bukanlah pekerjaan yang ringan. Terutama saat dia sadar tugasnya itu akan memastikan kehidupan tetap berevolusi dengan indah.. Ketika Rasul dan keluarganya sudah tiada lagi untuk memberikan contoh, sedang kisah2 hebat beliau begitu sulit diterapkan di masa kini dengan segenap 'gangguan' koneksi akibat globalisasi...

Sedang manusia adalah tempatnya cela dan salah. Bagaimana kita dapat terus belajar dari hidup kita sendiri demi proses evolusi yang indah, itu inti dari PERJUANGAN... Tanpa memikirkan pahala karena sudah BERKORBAN...

Hidup untuk berbahagia di saat ini, di dimensi waktu yang sekarang, bukan Kelak. Karena proses evolusi itu terus bergerak tanpa bisa dihentikan saat layar kehidupan terkembang dan mengalir di putaran waktu. Sementara syurga takkan pernah pergi dari tahtanya bahkan saat waktu berhenti dan kehidupan tenggelam...

Teman, Kita ada di sini, di lipatan waktu ini... Waktu kita dan anak2 tidak akan kembali.. Saya hanya memprovokasi untuk make the best out of it...

Apa yang kita lakukan pada diri kita sebagai Ibu... Apa yang kita lakukan pada orang lain... Dan apa yang kita biarkan orang lain lakukan pada diri kita... Itu adalah pelajaran untuk anak2... Ibu yang bahagia butuh mencintai dan dicintai...

Cinta itu sebuah pelajaran besar dalam kehidupan. Berisi uraian lengkap bagaimana cara kita mencintai dan menemukan keyakinan bahwa setiap kita berhak dicintai.. Pemahaman itu tersemai dan tumbuh dari rumah. Sebagaimana Allah mencintai kita, dariNya lah seharusnya kita belajar cara memelihara dan menyemaikan kehidupan dengan cinta...

Dari sekolah kehidupan, saya belajar percaya... Seorang Ibu yang yakin dirinya pantas dicintai dan mampu menemukan cinta tanpa syarat untuk pribadinya... Akan berhasil memberi pelajaran cinta dengan lebih baik ke seisi semesta.. Bukan hanya di rumahnya...

Karena perjalanan menemukan Cinta dan menggapai Bahagia adalah tentang Perjuangan bukan sekedar Pengorbanan... Jangan pernah lupa Heaven Help Those Who Help Themselves...

Selamat Berjuang...
Demi Cinta dan Bahagia...

*Sigh... Semoga...
Bunch of Love,

Arifah H.

Wings of The Pheonix

The stars knew how long I've been wandering to find the heart that beats in tandem with mine.. The sun noticed how far I'd like to t...