August 11, 2019

Turn The Matrix Off...

Masih ingat film Matrix kan,  ketika Neo disodori kapsul merah dan biru, untuk memilih pikirannya tetap berdiam di dalam Matrix sementara tubuhnya terpenjara, atau dibangunkan agar pikiran menyatu dengan tubuh dan jiwanya...

Pilihan pertama tentu jauh lebih mudah, karena tinggal ikuti saja mainstream, ke mana program dibuat mengalir,  ke situlah kita akan pergi.  Satu jalur secara berbondong2, gausah dipikirin tinggal jalani saja...

Pilihan kedua bangun, kemudian masih harus berupaya mengalahkan pedih perih untuk dapat bertahan hidup, lalu menentukan tujuan dan peran, memastikan mana kawan dan lawan, sudah itu menyelami misi apa yang sejatinya perlu dikerjakan agar tujuan tercapai...

Ya semacam itulah proses Awakening...

Kalau hidup masih terasa di jalur bebas hambatan dan bergerak berbondong2 pada orbit yang sama, boleh jadi kita perlu curiga,  mungkin Sang Diri masih terperangkap di dalam Matrix. 

Proses menyatukan Jiwa dengan Raga dan Pikiran, biasanya nggegirisi butuh menginventarisir luka dengan banyak airmata, kadang harus jalan sendiri di kesunyian untuk benar2 menyelami spesifikasi Sang Diri, dan mengaktivasi Self Mastery...  

Proses selanjutnya baru dapat dilakoni setelah Jiwa dengan Raga dan Pikiran menyatu, yaitu berkoneksi dengan Rasa, supaya kita dapat mengaktivasi GPS dan peta Sang Diri demi menentukan Koordinat dan Rute yang harus kita tempuh, demi menemukan Existence Track...  

Tujuan akhir dari proses Awakening, adalah terbukanya surat perintah penciptaan,  hingga Sang Diri menemukan Soul Missionnya, alasan mendasar dari keberadaannya di Muka Bumi... 

Berharap perjalanan kita menapaki ruang dan waktu yang sekarang,  dapat mempertemukan Sang Diri dengan spesifikasi misi sejatinya... 


#BeyondInfinity
#CrystallineHeart
#TheMatrix



August 10, 2019

Dealing with My Darkside...

Setelah beberapa hari ini dihantui mimpi buruk yang menguasai benak sadarku, sewarna dengan pedih perihnya balutan emosi  yang menggelantung, menoreh sesak di dadaku. Sungguh, aku begitu bersyukur ketika pagi ini dapat terbangun dari tidur dengan riang dan bahagia, berkat sepenggal bunga tidur yang meninggalkan lukisan indah di benak, dan mampu menghangatkan kembali hatiku, yang sempat kubiarkan beku dalam benteng rasa yang kubangun agar emosi di jiwa tak merusak kebeningan rasaku. Ada pekat yang sontak terangkat, manakala warna pelangi kembali menghiasi benak dan hati... 

Hingga muncul sekelumit ragu yang mengundang tanya:
Siapakah yang melukis gradasi pekat itu di dalam diriku,
lalu siapa lagikah yang telah melukis pelangiku pagi ini...? 

Belum sempat ku selami benak dan hati untuk menemukan bahasa, demi mengoyak ragu. Berkelebat di dunia maya, lantun kata yang membawaku pada sekelumit RASA sekian tahun silam... 

"Your Enemy is not DEMON, but Your unKNOWINGness of Your Roots... "
Belum sempat lagi kata-kata itu ku selami dalam samudera rasa bahasaku, baris-baris tulisan ini pun tersaji di ruang nalarku... 

"Sibuk aku mematut-matut diri.
Menata kata, memperbaiki perilaku.
Namun tak kutemukan perasaan layak di hati ini,
untuk menemuimu.

Layla,
kutitipkan sepotong syair dari penyair favoritku.
Bukan untuk apapun.
Hanya untuk meredakan gundah,
dari egoku sebagai insan.

Aku memang lelaki yang tak beruntung
Tak punya apapun yang dapat kubanggakan
Sementara engkau terlalu sempurna
Hampir hanya terwujud dalam bayang-bayang 
Ulurkanlah tanganMu,
alirkanlah cintaMu
Aku terpana tanpa daya..."

Baru saja muncul kehendakku  untuk menjawabnya dengan tulisan:
"Bagaimana mungkin kau berharap jadi seorang peCINTA,
manakala masih begitu rendah kau NILAI dirimu sendiri..."

Tetiba barisan kalimat di status FB saudariku ini muncul menyergap benak:
"Bagaimana dirimu bisa melihat bahwa kamu layak dan harus mencintai, menghargai, menyayangi dirimu sendiri diantara kesibukan pembelajaran-pembelajaranmu yang menyita banyak waktumu, uangmu, emosimu, pikiranmu, tenagamu dan semua yang kamu hadapi dikehidupan ini.
...

Kalau bisa tanpa perlu kamu menyakiti, merendahkan, memberi emblem atau merk atau penghakiman kepada mahluk lain..."

Dan tetiba aku pun menulis ringan isi pikiranku:
"Apalagi kepada dirimu sendiri... Berhenti menyidang diri sendiri, saat dia lagi menyelam di kegelapannya, kuwi luwih angel lho... Lha yang masih sueneng nyidang orang lain, mesti durung rampung urusannya sama pak hakim dan pak jaksa di dalam diri... Nek wis rampung lak ora wani nyidang2 liyan.."

Apa yang kutulis di sini adalah cuplikan dari elegi kisah tak sempurna manusia, yang  kebetulan tertangkap radar kesadaranku pagi ini. Seakan pesan semesta yang berharap aku mau menguraikannya dalam lantun kata, agar terpahat dan terbaca jelas bagai prasasti, di dalam relung sang jiwa. Hingga aku memahami sejatinya di lipatan waktu yang sekarang aku tengah mendapatkan pelajaran apa...

Sejak 2013 aku melihat GusTi, Semesta, dan keHIDUPan di dalamnya dengan cara yang jauh berbeda.  Saat aku diperkenankan untuk, berdamai dengan pak hakim dan pak jaksa di semesta dalam diriku.  Damai yang  mengijinkanku melihat diriku dengan cara yang berbeda,  saat aku belajar untuk mengampuni diriku, atas semua kisah tidak sempurna yang pernah kutorehkan pada sejarahnya, sebelum aku bersimpuh di hadapan Semesta dan Penciptanya...

Hingga aku memahami proses pergantian gelap dan terang jiwa, saat pertukaran gradasi hitam pekat dengan warna pelangi menjadi keniscayaan yang mudah saja terjadi, bagi yang menguasai kesadaran Sang Diri... 

Saat itu aku mengambil tanggung jawab atas semua yang terjadi dalam hidupku, sebagai konsekuensi logis dan alamiah, dari pilihan-pilihan yang kubuat sendiri.  Segalanya  adalah cara kehidupan mengajariku untuk memaknai Sang Waktu, yang mengalir tanpa pernah dapat dihentikan, dengan setiap element dari  default manusia di dalam diri. Namun kita diijinkan untuk sejenak berdiam, mencermati, merasakan, dan merenungkan, hingga pada gilirannya menemukan makna...

Setiap kita butuh ruang istimewa di antara hiruk pikuk gerak kehidupan, untuk sejenak menelusuri dan menikmati menit demi menit terberi. Saat hasrat dan nafsu dikelola, untuk kemudian dijinakkan.  Seiring saat pikiran dilemahkan oleh lelahnya berjibaku dengan tuntutan di luar diri. Hingga kita dapat sumeleh,  saat kendali tubuh dan jiwa diambil alih oleh Hati. Hanya kelembutan yang tumbuh di kebeningan Hati yang penuh KASIH,  memiliki kemampuan menjernihkan jiwa, dan membersihkan pikiran. Hingga default Sang Diri memiliki kesempatan untuk melakukan tune up hariannya... 

Sang Waktu mengajariku sebuah kenyataan, bahwa tiada mungkin manusia lahir di muka Bumi, hidup sempurna tanpa harus berhadapan dengan kisah tak sempurnanya. Sedang saat kendali diri berpusat di Hati, adalah celah di mana manusia diparingi kesempatan untuk memahami semua kisah tak sempurna di dalam hidupnya, dengan cara yang paling sempurna untuk memberinya peluang bergerak,tumbuh, dan berkembang menuju versi yang lebih baik dari Sang Diri... 

Berharap kita senantiasa diparingi ruang kesadaran yang cukup untuk berdiam, mencermati, merasakan, dan merenungkan setiap peristiwa di dalam kisah penciptaan dan perjalanan manusia, hingga pada gilirannya menemukan makna hakiki dari kisah Sang Diri...

Semoga...

#VibrateLove
#CrystallineHeart
#BeyondInfinity
#LookIn



August 9, 2019

Back to The Day of My Future Past...

Pada suatu hari ada yang berhasil membobol jalur ke ranjau-ranjau yang tertanam di Jiwa...

1. Aku kuatir ga cukup pantas untuk dapat kasih sayang dari orang2 yang kusayangi, aku mencoba meyakini bahwa self love itu cukup, tapi otak ga bisa bohong, sistem limbikku butuh stimulasi kasih sayang dari orang2 terdekat dg jiwaku...

2. Aku sering minder dengan casing/wadagku yang ga ada lembut2nya. Perempuan pada umumnya bisa tampil ayu dan anggun, membuat nyaman dan adem orang2 di dekatnya.  Aku dibesarkan untuk jadi fighter, mengandalkan ketepatan analisis, kemampuan berpikir cepat, sampai kegesitan bertindak dalam menuntaskan masalah.  Hal yang kadang bikin aku terlalu mandiri, dan mengintimidasi orang2 yang kusayangi..

3. Sepertinya casing/wadagku ga selalu sinkron dengan inti diriku. Aku sangat mudah menangis, tapi airmataku sering tertahan, dan kata2ku tercekat, karena aku gamau orang merasa ga nyaman dengan emosiku. Akibatnya di kondisi paling lemah, saat yang bisa kurasakan cuma remuk, aku ga mampu teriak minta tolong. Sementara orang2 di dekatku bahkan ga ada yang sadar aku sedang dalam kondisi butuh ditolong...

4. Aku kadang sedih karena jarang ada orang yang sadar ada Aku di balik casing/ wadag ini. Ada saatnya aku kepingin ada orang yang bisa merasakan emosiku, saat aku gapunya bahasa untuk mengurai kekacauan yang kurasakan di dalam diri. Tapi harapan ya tinggal harapan, saat aku ga berhasil membahasakan emosi di jiwa, selamanya orang berpikir aku baperan dan pemarah,  padahal aku hanya merasa inferior dan insecure...

5. Hatiku sangat mudah tersentuh cinta/ kasih sayang, kala itu terjadi bibirku sering kehilangan kata2 untuk membahasakannya. Sedang tangan dan tubuhku kadang terlalu kaku untuk berani menyentuh dan merengkuh dengan kasih sayang. Padahal aku hanya ingin mengalirkan daya yang terbangkitkan di dalam hatiku. Orang sering salah mengartikan itu sebagai bentuk keinginan untuk naik ranjang, melupakan kebutuhanku akan koneksi antar jiwa yang lebih punya makna...

6. Aku cukup sadar,  di balik segala bentuk inferiority dan insecurity yang sudah kutulis di atas, sesungguhnya aku adalah mahluk yang unik. Kekayaanku adalah pengalaman saat bereksplorasi dengan kehidupan, yang membuatku sadar akan AKU.  Sering aku berharap bisa menemukab orang lain yang juga suka bereksplorasi dengan hidup seperti aku,  sehingga pengalamannya bisa melengkapi pemahamanku...

Semoga...




When LOVE Burns Me...


They say it's what you make/ I say it's up to fate/ It's woven in my soul/ I need to let you go/ Your eyes, they shine so bright/ I want to save their light/ I can't escape this now/ Unless you show me how/ When you feel my heat/ Look into my eyes/ It's where my demons hide 
~ Imagine Dragons



"Menyayangimu itu Indah..." Kataku suatu hari, saat rona merah muda di dada meraja, mengintip bagai purnama di balik rimbunnya cemara... Tanpa sedikitpun aku mengerti, apa tujuan keberadaan semua warna rasa ini, gerangan apa lagi yang harus dipelajari sang diri lewat semuanya... 



Seandainya saja, kita diberi kesempatan untuk tau KAPAN, DI MANA dan BAGAIMANA kita bisa 'JATUH CINTA'. Sesuatu yang nyaris tidak dapat dihindari, terlebih saat kita tidak pernah dapat memilih kepada siapa CINTA harus dijatuhkan, sebab CINTA sejatinya punya rencana sendiri. Untunglah kita diberi hak pilih untuk setidaknya menentukan, apa CINTA itu akan tumbuh menjadi ANUGERAH, ataukah akan berakhir sebagai MUSIBAH, dengan segala potensi kekuatannya.

Sedang sejatinya setiap saat manusia butuh untuk menCINTAi dan merasa diCINTAi, sebagaimana kita PERLU untuk selalu mampu MENGHIDUPKAN CINTA, demi Nafas keSEGARannya.

Sayangnya tidak selamanya mengalir bersama CINTA itu mudah. Terutama saat JIWA masih menyimpan PRAHARA, berupa luka tersembunyi yang membenteng rapat dirinya di sudut tergelap jiwa. Hanya seringnya kembali berdarah saat pedih perih emosi menghujam relung terdalam dan menyingkap keberadaannya.

"Everytime Love burns me, I give myself a rebirth..."
Demikian kalbu berbisik, saat menatap goresan kepak sayap pheonix berwarna pelangi yang tetiba muncul di depan mata. Seakan sedang menghitung jumlah retakan yang pernah tertoreh di jiwa, ketika CINTA datang mengurai PRAHARA. Hingga diri kembali terhempas ke wilayah gelap terang jiwa di mana ilusi membelai realita, saat tiap larik cahaya mengiris relung tergelap yang tersimpan rapih dalam jiwa.

CINTA seringnya hadir dengan beragam wajahnya, mengajak siapapun yang disentuhnya melebur dalam pesona dan dayanya. Menghancurkan semua sekat yang pernah dibangun jiwa dalam pertumbuhannya. Hingga hilang segala bentuk eksistensi yang pernah muncul sebagai tameng untuk melindungi sang diri dari dunia luar. Semacam kawah candradimuka yang mampu membakar sang diri hingga ke dimensi partikel, demi menjalani takdirnya bagai sang pheonix yang terlahir kembali dari abu pembakarannya.




Demikianlah CINTA hadir untuk mengembalikan sang diri pada existence tracknya, sebagaimana Kahlil Gibran pernah menulis:
When love beckons to you, follow him, Though his ways are hard and steep. And when his wings enfold you yield to him,Though the sword hidden among his pinions may wound you. And when he speaks to you believe in him, Though his voice may shatter your dreams as the north wind lays waste the garden.
For even as love crowns you so shall he crucify you.Even as he is for your growth so is he for your pruning. Even as he ascends to your height and caresses your tenderest branches that quiver in the sun, So shall he descend to your roots and shake them in their clinging to the earth.

Saat diri berupaya mewujudkan CINTA ini lewat meladeni semesta sesuai existence track yang terberi, maka sejatinya mereka yang dihadirkan semesta di hadapan kita dalam naungan CINTA, adalah kehidupan yang perlu kita sentuh dengan CINTA yang memBANGUN dan memBERDAYAkan. CINTA sejatinya mampu mengajarkan pada sang diri cara meMULIAkan keHIDUPan, lewat menyaksikan Sang HIDUP tumbuh di dalam diri. Ketika sang diri mampu menemukan bahagia dengan cara menghadirkan BAHAGIA lewat DAYA yang terberi bagi sesama, sesuai dengan pesan paling hakiki dari semesta, alasan utama mengapa kita diciptakan.

Hanya saja perjalanan untuk sampai di sana, butuh serangkaian proses wisata internal yang nggegirisi, di mana jiwa harus mau berhadapan dengan apapun seteru terbesarnya di dalam diri. Sebab cara paling mungkin untuk meraih dan memantulkan CAHAYA CINTA di semesta, adalah lewat memeluk sisi GELAP yang mungkin bangkit di sudut terkelam diri...

Sedang siapapun yang tersentuh CINTA, sejatinya diberi kesempatan menemukan CERMIN terjujur bagi diri, pada siapapun yang telah dipilih dan dihadirkan oleh CINTA. Demi merefleksikan GELAP di jiwa yang muncul dalam serangkaian gelisah sebagai akibat naik dan turunnya level emosi dalam diri. Ketika dialektika antar hati bergerak, tumbuh,  dan berkembang, di ruang antar jiwa yang telah dibukakan oleh CINTA... 


Berharap semua mahluk yang mampu menikmati hadirnya CINTA, menemukan BAHAGIA bersama orang-orang terkasih...

Semoga...


#TheInfiniteLove
#BeyondInfinity
#TwilightZone


"Believe it, I see it
I know that you can feel it
No secrets worth keeping
So fool me like I'm dreaming

Take me through the night
Fall into the dark side
We don't need the light
We'll live on the dark side
I see it, let's feel it.."


~ Allan Walker

August 6, 2019

Two Steps Behind...

Sungguh bukan hal mudah untuk melepaskan yang terkasih, terlebih saat emosi mulai melibatkan diri, sebagaimana tuntutan keinginan dan kebutuhan turut meraja... 

Hanya saja 'show must go on'. saat waktu tak bisa dihentikan dan arti keberadaan harus bergeser ke dimensi yang lebih kompleks, sedang harmonisasi dan keselarasan bukanlah kata yang dapat dipaksakan maknanya... 

Jadi hal terbaik untuk saat ini mungkin mundur setapak dua tapak, agar dapat mengumpulkan energi demi melangkah ke delapan penjuru... 

Berharap apa yang pernah ada dan berhasil memberi makna tak akan perlu ada akhirnya... 

Semoga...

#VibrateLove











"...Take the time
To think about it
Just walk the line, you know you just can't fight it
Take a look around you'll see what you can find
Like the fire that's burnin' up inside me
Now there's a magic runnin' through your soul
But you can't have it all, no
Whatever you do
I'll be two steps behind you
Wherever you go
And I'll be there to remind you
That it only takes a minute of your precious time
To turn around
I'll be two steps behind..."

July 25, 2019

Being with You...

Membersamaimu...
Berarti menemukan celah kesempatan untuk lompati ruang dan menelikung waktu. Hingga jiwa dapat berbahagia menapaki lorong bercahaya demi mendekati inti dari keberadaanmu...

Membersamaimu...
Berarti membolehkan kehidupan dalam diri menari di ruang multidimensi, di mana ilusi membelai realita tepat di batas cakrawala, saat bayang kegelapan tersentuh zona cahaya...

Membersamaimu...
Berarti menikmati bergeraknya detik demi detik kehidupan, seraya tersenyum menatap cermin paling jujur, yang memantulkan semburat warna pelangi di antara bayangan tergelap diri...

Membersamaimu...
Berarti membiarkan CINTA hadir dalam berbagai wajahnya, demi menyingkap satu demi satu rahasia terdalam jiwa, hingga tiba saat tabir kesejatian terungkap. Sampai kudapat kmenikmati Pelangi RASA dari sebentuk CINTA tanpa Syarat yang mengejawantah...

Membersamaimu...
Berarti mengijinkan raga dan pikiran bersinergi dengan kolaborasi jiwa dan hati, demi membaurkan segala bentuk warna dan perbedaan, hingga tercipta sebuah lantunan romansa yang mengalunkan harmoni melodi kehidupan...

Syukurku atas kebersamaan ini,  berharap segala yang boleh kita miliki di kehidupan terkini takkan perlu ada akhirnya...

Semoga...

#UnconditionalLove
#TentangCINTAyangSATU
#IaminLOVE

July 24, 2019

The Flame Within...

"There's a calm surrender/ To the rush of day/ When the heat of a rolling wave/ Can be turned away/ An enchanted moment/ And it sees me through/ It's enough for this restless warrior/ Just to be with you..."

Bukan hari-hari yang biasa, segalanya seperti bergerak dari ada menuju tiada, kemudian perlahan beranjak untuk men'jadi' apa adanya.. 

Sebagaimana semesta tercipta, ketika jiwa-jiwa kembali dipertemukan oleh ruang dan waktu yang sekarang, dalam perjalanan yang sama, di titik koordinat yang saling bersinggungan...

"Berhentilah mempertanyakan untuk men'jadi' apa, dan bagaimana, menyelamlah ke kedalaman sang diri, hingga kau jumpai mengapa..." 
Sedang tiap kisah perjalanan adalah kumpulan titik demi titik yang ditapaki dengan Hati dan dimaknai sepenuh Rasa, hingga paripurna segala Karsa mengejawantah, dalam gerak nyata Sang Hidup di dalam Jiwa... 

Saat ini, di lipatan waktu terkini tanpa batasan sekat ruang, biarkan diri menikmati Rasa yang menghangat di relung terdalam kalbu, memutar kembali roda Asa hingga pijar Karsa tetap menyala, menerbangkan Nalar ke tahtanya di luas semesta... 

Semoga... 

#SacredSilence
#SolitudeisSplendid
#VibrateLove


Wings of The Pheonix

The stars knew how long I've been wandering to find the heart that beats in tandem with mine.. The sun noticed how far I'd like to t...