Ketika kita meyakini bahwa hidup adalah
perjalanan, maka pikiran (mind), perasaan(heart) dan kesadaran(soul)
adalah peta dan kompas (inner strength) yang bisa digunakan untuk
menemukan arah..
Sang Maha Pencipta telah merancang perangkat GPS
itu dengan kesempurnaan, untuk dapat menemukan arah yang benar dan
melengkapi kita dengan default factory setting yang sesuai untuk
battlefield yang dipilihkanNya untuk kita. Tinggal keyakinan kita pada
equipment yang kita miliki menentukan kecanggihan kita menggunakannya..
Salah atau benar, kesasar atau bertemu jalan buntu, bukankah itu sudah
lumrah dalam sebuah perjalanan. Maka keyakinan untuk terus bergerak
adalah jawaban.. Ketika jatuh, maka segeralah bangkit berdiri..
Ketika hilang arah naik ke tempat tertinggi. Ketika bertemu kebuntuan
maka carilah jalan kembali. Ketika lelah maka istirahatlah secukupnya.
Ketika kehabisan tenaga maka recharged energi dengan perbekalan yang
diperlukan. Semua sah, boleh dan mungkin..
Yang mematikan
adalah berhenti bergerak, tenggelam dalam bimbang dan mati rasa karena
ketakutan akan tersesat dan berbuat salah…
Padahal salah dan sesat telah diakui sebagai bagian dari kemanusiaan, sejak kanjeng nabi adam as terusir dari surga..
Solusinya ya berhenti terbang saat sayap patah, waktunya menggunakan
dua kaki untuk menapaki bumi sambil menemukan ramuan obat untuk
membungkus yang patah. Kelak waktunya kan tiba untuk tinggal landas dan
terbang lagi.
Semakin tinggi dan jauh..
Demi mengukir makna hidup kita..
Semoga..